Anak Ungkap Alasan Jenderal Hoegeng Tolak Dimakamkan di TMP Kalibata

5 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Putra Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Aditya Soetanto Hoegeng mengungkap alasan mendiang ayahnya menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Hoegeng yang wafat pada 14 Juli 2004 dimakamkan di tanah keluarga, Jalan Sukami Blok Masjid Nomor 23, RT.3/RW.5, Tonjong, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Aditya, ayahnya menolak dimakamkan di TMP Kalibata karena kelak ingin didampingi istrinya, Meriyati Hoegeng. Eyang Meri, sapaan akrabnya, meninggal hari ini, Selasa (3/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa Bapak tidak mau dimakamkan di Makam Pahlawan, pesan Bapak adalah, 'Kalau saya dimakamkan di Makam Pahlawan, Ibumu tidak bisa ada di sebelah saya'," kata Aditya di rumah duka, kompleks Pesona Khayangan, Depok.

"Karena jatahnya kan cuman untuk almarhum, Ibu tidak ada jatah. Jadi memang pilihan dua beliau lah untuk dimakamkan di Tonjong itu," imbuhnya.

Eyang Meri meninggal sekitar pukul 13.20 WIB setelah menjalani perawatan intensif selama dua pekan di RS Bhayangkara, Kramatjati, Jakarta Timur. Menurut Aditya, kondisi ibunya sempat pulih sejak dirawat pada Oktober 2025.

Namun, kondisinya kembali menurun usai dua hari berada di rumah. Eyang Meri kembali ke rumah sakit pada 26 Januari dan akhirnya berpulang pada Selasa (3/2).

"Jadi akhirnya kita bawa lagi Ibu ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya, dari tanggal 26 sampai hari ini kondisinya terus menurun," kata Aditya.

Karangan bunga Prabowo hingga Jokowi

Puluhan karangan buka terus memadati rumah duka istri mendiang Meriati Roeslani Hoegeng. Sejak sore, karangan bunga yang mayoritas datang dari perwira tinggi Polri terus berdatangan, termasuk dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Sekitar pukul 21.00 WIB, karangan bunga dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming tertapajang persis di depan rumah duka. Karangan ketiganya berjejer dengan bunga dari Presiden ketujuh RI Joko Widodo.

Ada pula karangan bunga dari Presiden kelima, Megawati Soekarnoputri. Ketua Umum PDIP itu selama ini dikenal dekat dengan Meri. Pada peringatan ulang tahun ke-100, Mega juga datang ke kediaman Meri pada 23 Juni 2025.

Namun, hingga berita ini ditulis sekitar pukul 21.30 WIB, belum ada tanda-tanda kedatangan Presiden maupun Wapres ke kediaman. Begitu pula dengan Kapolri.

Jenazah Eyang Meri telah tiba di kediaman sejak pukul 16.00 WIB. Jenazah diberangkatkan dari RS Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Meri Hoegeng rencananya akan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, di dekat suaminya Hoegeng Iman Santoso, Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Rabu (4/2).

Eyang Meri meninggal di usia 100 tahun usai menjalani perawatan intensif. Dia Meri lahir pada 23 Juni 1925 dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe.

Meriyati dan Hoegeng menikah pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta dan dikaruniai tiga orang anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani.

Jenderal Hoegeng adalah Kapolri kelima RI. Dia memimpin institusi penegak hukum itu kurun waktu 1968-1971.

Semasa berkarier sebagai polisi, dia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya berintegritas tinggi, tetapi juga berkomitmen untuk memberantas korupsi dan gratifikasi dalam tubuh kepolisian.

Pada era pemerintahan Presiden kesatu RI, Sukarno, Hoegeng menjabat sebagai Menteri Luar Negeri tahun 1965 dan kemudian diangkat sebagai Menteri Sekretaris Kabinet Inti pada tahun 1966.

Hingga wafatnya pada 14 Juli 2004, nama Hoegeng selalu identik dengan integritas dan kesederhanaan yang tetap dikenang hingga saat ini. Saking pantasnya jadi panutan, dalam satu candaan almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang jadi Presiden keempat RI, pernah menyatakan, "Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hoegeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur."

(thr/dal)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Kasus | | | |