Jakarta, CNN Indonesia --
Aksi pelemparan bom molotov terjadi di lingkungan SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), Selasa (3/2).
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.40 WIB. Terduga pelaku pelempar molotov, yang merupakan siswa di sekolah itu pun telah diamankan dan diperiksa polisi.
Sementara itu, pada Rabu (4/2) ini, pihak sekolah menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) setelah insiden pelemparan bom molotov kemarin. Kebijakan ini diambil karena masih adanya rasa khawatir di kalangan siswa dan guru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus ini masih dalam penyelidikan kepolisian. Namun, sejauh ini muncul dugaan pelaku mengalami tekanan mental. Kepolisian menduga tekanan mental itu dialami di lingkungan keluarga, dan ada juga yang mengabarkan terduga pelaku merupakan korban perundungan di sekolah.
Tekanan mental karena kondisi keluarga
Kapolda Kalbar Irjen Pipit Rismanto mengatakan dari hasil pendalaman awal, aparat menemukan adanya tekanan psikologis yang cukup berat akibat kondisi keluarga.
"Secara keseharian di sekolah, anak ini berperilaku normal. Namun tekanan mental dari persoalan keluarga diduga menjadi faktor yang berkaitan dengan kejadian ini," ungkap Pipit, dikutip dari detikKalimantan.
Pipit menerangkan sebelumnya anak tersebut sempat dalam pemantauan anak buahnya. Namun pengawasan tidak lagi intensif seiring munculnya persoalan di lingkungan keluarga.
Hasil pendalaman oleh aparat, kakek dan ayah anak tersebut diketahui sedang sakit. Diduga, kata Pipit, hal itu memberikan beban mental yang berdampak pada kondisi kejiwaan terduga pelaku.
Dengan demikian, penanganan anak sebagai terduga pelaku pelempar bom molotov tidak semata dilihat dari aspek hukum, tapi juga difokuskan pada upaya pembinaan dan penelusuran akar masalah, mengingat pelaku masih berstatus anak di bawah umur.
"Peristiwa ini menjadi perhatian kita bersama. Saat ini kami masih mendalami akar persoalan yang dialami anak tersebut," kata Pipit.
Dugaan perundungan di sekolah
Selain itu, dari kesaksian warga, muncul pula dugaan bahwa terduga pelaku pelemparan molotov itu merupakan korban perundungan (bully) di sekolah.
Walhasil, aksi molotov itu diduga merupakan bentuk pelampiasan atau upaya balas dendam. Informasi ini disampaikan oleh seorang warga yang memiliki anggota keluarga bersekolah di SMP Negeri 3 Sungai Raya.
"Saya mendapat cerita dari keluarga yang sekolah di sana. Katanya, anak itu sering di-bully. Karena itu dia membawa bom molotov dan melemparkannya ke kelas-kelas yang berisi anak-anak yang sering mem-bully dia, katanya untuk balas dendam," ujar warga yang namanya enggan disebut seperti dikutip dari detikKalimantan.
Respons Disdikbud
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kubu Raya Syarif Muhammad Firdaus Alkadrie belum bersedia memberikan komentar lebih jauh terkait dugaan perundungan tersebut.
Ia menegaskan bahwa persoalan itu sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum.
"Untuk hal-hal lain seperti dugaan perundungan, kami belum bisa berkomentar banyak dan menyerahkannya sepenuhnya kepada pihak kepolisian," katanya.
Disdikbud Kubu Raya berharap proses penyelidikan segera memberikan kejelasan, sehingga aktivitas belajar mengajar di SMPN 3 Sungai Raya dapat kembali berjalan normal tanpa mengganggu keamanan dan kondisi psikologis peserta didik.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 3 Sungai Raya, Lily, mengatakan pelaksanaan PJJ untuk sementara karena masih ada rasa khawatir di kalangan siswa dan guru.
"Pihak sekolah memutuskan untuk mengalihkan kegiatan pembelajaran secara daring dari selama dua hari ke depan," kata Lily Rabu ini.
Sebelumnya aksi pelemparan moloov terjadi pada Selasa siang lalu di lingkungan sekolah SMPN 3 Sungai Raya, sekitar pukul 10.40.
Lily menjelaskan ledakan dari bom molotov itu terdengar saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung. Seingatnya, ada empat kali ledakan yang membuat suasana di sekolah berubah mencekam dan memicu kepanikan siswa maupun guru.
"Untuk menghindari kepanikan ini, maka dialihkan pembelajaran dari rumah. Apabila hari Jumat nanti kondisi sudah aman dan memungkinkan, kegiatan pembelajaran tatap muka akan kami laksanakan. Para siswa diminta masuk sekolah seperti biasa," ujarnya.
Imbas ledakan molotov kemarin, Lily mengatakan seorang pelajar mengalami luka ringan setelah menginjak serpihan paku karena panik sesaat mendengar ledakan.
Kemarin pelajar tersebut telah ditangani medis, dan diperbolehkan pulang.
"Korban sudah diberi penanganan dan diperbolehkan pulang, begitu juga dengan siswa lainnya yang dipulangkan sebagai langkah antisipasi," kata dia.
Baca berita lengkapnya di sini dan di sini.
(kid/ugo)

3 hours ago
2
















































