Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menegaskan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari umat tidak digunakan untuk buku Islam Ala Prabowo yang diluncurkan saat acara badan tersebut tahun lalu.
Keberadaan buku tersebut kini menuai polemik, apalagi sejumlah tokoh di dalamnya mengaku tak menulis untuk buku dengan jenis bunga rampai tersebut.
Sementara itu, BAZNAS menyatakan keterlibatan badan itu dalam peluncuran buku tersebut di salah satu agenda kegiatan mereka pada 2025 lalu adalah dalam konteks hubungan kelembagaan dan literasi dakwah keagamaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid mengatakan BAZNAS perlu menyampaikan penjelasan secara terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai posisi dan keterlibatannya dalam kegiatan tersebut.
"Pertama, pembuatan dan penerbitan buku tersebut sama sekali tidak menggunakan dana zakat, infak, dan sedekah yang dipercayakan masyarakat melalui BAZNAS," kata Sodik dikutip dari website resmi BAZNAS, Kamis (10/9).
Ia juga menegaskan buku tersebut tidak ditulis maupun diterbitkan tim BAZNAS.
Menurutnya, keterlibatan badan yang dipimpinnya dalam peluncuran buku di sela kegiatan Rakornas BAZNAS tahun 2025 berada dalam konteks sinergi kelembagaan antara MUI, Kementerian Agama, dan MPR RI dalam literasi dakwah keagamaan. Dia menegaskan kegiatan itu bukan sebagai bentuk keterlibatan BAZNAS dalam politik praktis.
Dalam pernyataan terbarunya di situs resmi BAZNAS, Sodik mengatakan kepercayaan masyarakat untuk menunaikan ZIS melalui lembaganya merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar yang senantiasa dijaga.
"Saudara-saudaraku, Bapak dan Ibu para muzaki dan donatur BAZNAS yang kami hormati. Kepercayaan Bapak dan Ibu untuk mempercayakan ZIS melalui BAZNAS adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar yang senantiasa kami jaga," ujarnya.
Lebih lanjut, Sodik juga menyampaikan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto--sebagai pribadi dan Kepala Negara RI--selama ini memberikan perhatian dan dukungan yang sangat besar terhadap tugas dan fungsi BAZNAS.
"Selain dukungan kebijakan, beliau juga mengamanahkan zakat, infak, dan sedekah pribadi kepada BAZNAS. Bersama tim BAZNAS, saat ini kami sedang memilih beberapa program unggulan BAZNAS untuk disampaikan kepada rakyat Indonesia, yang bersumber dari dana infak dan sedekah pribadi Presiden Prabowo Subianto," ujarnya.
Ia mengatakan BAZNAS menghormati perhatian dan kritik masyarakat serta berkomitmen menjaga amanah muzaki sebaik-baiknya.
"Terima kasih kepada para muzaki dan kepada masyarakat yang terus mengingatkan kami untuk menjaga amanah dan kepercayaan muzaki sebaik-baiknya," ucapnya.
Buku Islam Ala Prabowo diluncurkan secara resmi pada 26 Agustus 2025 dalam kegiatan pembukaan Rakornas BAZNAS untuk tahun tersebut. Selain meluncurkan buku, saat itu BAZNAS juga meluncurkan Asosiasi Amil Zakat Republik Indonesia (AAZRI).
Dalam keterangan BAZNAS dan pemberitaan saat peluncuran, penulisan buku tersebut disebut diinisiasi Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.
Hingga berita ini ditulis, CNNIndonesia.com belum mendapatkan pernyataan resmi dari Muzanimaupun KH Anwar terkait polemik buku tersebut.
Sekilas soal buku Islam ala Prabowo
Buku dengan format bunga rampai ini disusun Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas.
Sementara itu, pada sampul buku tertera sejumlah tokoh yang memberikan kontribusi, seperti Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang menulis prolog dan tokoh ulama, Asep Saifuddin Chalim yang menulis epilog.
Selain mereka, nama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia Abdul Mu'ti, Yusril Ihza Mahendra, serta Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah periode 2026-2031 Noor Achmad juga tercantum pada sampul buku.
Belakangan buku tersebut menuai polemik setelah sampul, daftar isi, hingga deskripsi buku tersebut beredar luas di media sosial. Sejumlah warganet pun mempertanyakan pemilihan judul, hingga sejumlah nama tokoh yang terlibat dalam buku tersebut.
Apalagi setelah beberapa waktu terakhir sejumlah tokoh dan ulama mengaku tak menulis untuk buku tersebut.
Salah satunya yang mengaku tak menulis untuk buku bunga rampai itu adalah Yusril Ihza Mahendra yang kini menjabat Menko Hukum HAM dan Imipas.
Penjelasan Yusril
Yusril menjelaskan artikel atas namanya dalam buku tersebut ditulis berdasarkan wawancara oleh tim penyusun buku. Yusril mengatakan wawancara untuk buku itu dilakukan sebelum dirinya dilantik sebagai menteri Kabinet Merah Putih. Ia tidak lagi ingat sosok pewawancara.
"Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya. Setelah wawancara selesai, saya tidak pernah melihat transkrip maupun naskah hasil wawancara sampai buku tersebut diterbitkan," kata Yusril dalam keterangan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Senin (7/9).
Kini, ia mengaku telah membaca artikel tersebut dan merasa puas. Menurutnya, apa yang ia sampaikan dalam wawancara dengan tim penyusun, telah dituangkan dengan baik ke dalam tulisan di buku tersebut.
Yusril bahkan menegaskan wawancaranya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
"Saya baru membaca buku itu secara utuh sampai selesai. Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik," katanya.
Artikel atas nama Yusril dalam buku Islam ala Prabowo terletak di Bagian 1, halaman 2, yang mengulas tema Islam: Perdamaian dan Keadilan. Artikel atas nama Yusril tersebut diberi judul Peduli Kepada Rakyat dan Keadilan.
Lebih lanjut Yusril menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki peran dalam menggagas maupun membiayai penerbitan buku tersebut.
"Posisi saya dalam buku itu jelas sebagai orang yang diwawancarai. Saya bukan sponsor dan bukan pula orang yang menginisiasi penerbitannya," tegasnya.
Terkait judul buku yang memicu perbincangan hingga perdebatan publik di media sosial, Yusril menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah dilibatkan dalam pemilihan judul tersebut.
"Kalau saya ditanya mengenai judulnya, saya tidak tahu karena memang tidak pernah diajak membicarakannya. Kalau judulnya misalnya 'Prabowo dan Islam', menurut saya akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam," ujar Yusril.
Yusril menilai perdebatan mengenai buku tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat yang cenderung menilai isi dari judul tanpa membaca buku secara utuh.
(yoa/kid)

7 hours ago
9
















































