Kisah Arus Balik: Saat Motor Terhimpit Kemplang hingga Sekarung Beras

5 hours ago 6

Bandar Lampung, CNN Indonesia --

Pemandangan sepeda motor yang "membengkak", jadi pemandangan jamak di sepanjang jalur arteri Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Arus balik Lebaran 2026 bukan sekadar perjalanan pulang ke perantauan, melainkan misi mengangkut memori kampung halaman dalam bentuk kemplang, beras, hingga pisang.

Bagi para pemudik, rasanya tidak afdol jika kembali ke tanah perantauan dengan tangan hampa. Meski harus berbagi ruang sempit dengan anak dan istri, tumpukan oleh-oleh tetap menjadi prioritas yang tak boleh tertinggal.

Modifikasi demi kemplang

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh-oleh kerupuk kemplang ikan, menjadi primadona yang wajib dibawa. Namun, sifatnya yang rapuh menuntut kreativitas tinggi dari para pengendara. Tak sedikit pemudik yang memasang bilah kayu tambahan di jok belakang demi mengamankan jajanan renyah ini agar tidak hancur tergencet tas pakaian.

Roni (52), salah satu pemudik, adalah buktinya.

Motor matic Yamaha Nmax yang ia kendarai tampak "berotot" dengan tambahan kayu di sisi kiri dan kanan yang diikat kuat menggunakan tali karet ban dalam. Lalu bagian atasnya, ditaruh tas ransel pakaian serta beberapa bungkus kerupuk kemplang. Sedangkan bagian bagasi depan, masih disesaki dengan dua kardus berisi buah pisang serta kue lebaran.

Secara otomatis, kuda besi yang ia tunggangi bersama istrinya jadi penuh sesak dengan barang bawaan.

Roni bersama istrinya, tiba di Pelabuhan Bakauheni, Rabu (25/3) sekitar pukul 10.32 WIB setelah menempuh selama kurang lebih 3 jam perjalanan dari rumah orangtuanya di Lampung Timur. Sebelum nantinya, menyeberang ke Pelabuhan Merak dan melanjutkan perjalanan ke Sukabumi, Jawa Barat.

"Sudah tradisi. Kalau pulang mudik pasti bawa pisang dan kemplang buat saudara dan tetangga. Hari ini pulang karena besok sudah mulai kerja,"ujar Roni kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di kantung parkir khusus sepeda motor di dermaga 2 reguler Pelabuhan Bakauheni, Rabu (25/3) siang.

Menurutnya, sudah tiga kali Lebaran ini ia melakukan perjalanan mudik bersama istrinya dengan berkendara sepeda motor.

Ia juga mengatakan, bahwa ada alasan lain kenapa dirinya sengaja membawa oleh-oleh pisang janten, tanduk dan kemplang dari kampung halamannya ini.

Karena, oleh-oleh pisang dan kemplang yang biasa ditemukannya di Sukabumi, harganya agak lebih mahal dengan yang dibawanya dari kampung halamannya.

"Pisang ini saya ambil di kebun orangtua, dan kemplang beli dari tetangga karena memang pembuatnya,"ucapnya.

Bekal bertahan di perantauan

Lain lagi cerita Purnomo (40), pemudik tujuan Serang, Banten ini tidak hanya membawa oleh-oleh kemplang, tapi juga membawa satu karung beras seberat 20 kilogram hasil panen orang tuanya di Tanggamus, Lampung.

Awalnya, ia sempat ragu membawa beban seberat itu menggunakan motor. Namun, kasih sayang orang tua yang mewujud dalam butiran beras akhirnya ia bawa juga.

"Meski berat dan susah bawanya, alhamdulillah ini bisa untuk stok kalau lagi boke (tidak punya uang), dan bisa berbagi juga sama tetangga kontrakan," kata Purnomo.

Camilan penahan lelah

Sementara bagi Yadi (45), pemudik asal Way Ratai, Kabupaten Pesawaran tujuan Cengkareng, Jakarta bersama istri dan anaknya menuturkan, bahwa kemplang yang dibawanya punya fungsi ganda. Selain sebagai buah tangan untuk rekan kerja di Jakarta, kemplang adalah "obat kantuk" di perjalanan.

"Kemplang ini tadi belinya di daerah Tarahan, Lampung Selatan. Selain buat camilan di jalan pas istirahat, juga buat oleh-oleh dari Lampung untuk teman kerja dan tetangga kontrakan," jelasnya.

Meski ruang gerak terbatas dan beban motor melampaui kapasitas muatan, para pemudik ini tetap melaju dengan senyum.

Bagi mereka, repotnya membawa oleh-oleh adalah cara sederhana untuk tetap terhubung dengan akar mereka di kampung halaman.

(zai/ugo)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Kasus | | | |