Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Armuji dan Organisasi Masyarakat (Ormas) Madura Asli Sedarah (Madas) sepakat berdamai.
Sebelumnya, Armuji sempat dilaporkan Madas ke kepolisian terkait pernyataan soal rumah nenek Elina Widjajanti (80) yang mengalami kekerasan hingga diusir dari rumahnya oleh oknum ormas.
Dalam pertemuan dengan Ketua Umum Madas, Mohammad Taufik, Armuji sepakat berdamai dan menyampaikan permohonan maaf.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesepakatan damai itu terjadi saat pertemuan mediasi antara Armuji dengan Taufik di Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Selasa (6/1).
Dalam pertemuan itu, Armuji menyampaikan permohonan maaf kepada Madas atas penyebutan nama ormas tersebut dalam sebuah tayangan video inspeksi mendadak (sidak) di rumah Nenek Elina.
"Sekali lagi saya mohon maaf apabila saya khilaf menyebut ada logo Madas di bajunya pelaku pengusiran nenek Elina," kata Armuji usai pertemuan.
Armuji menjelaskan sidak tersebut dilakukan setelah dirinya menerima banyak laporan masyarakat. Peristiwa itu kemudian viral setelah diberitakan media dan tersebar di media sosial.
"Saat saya sidak ke tempat nenek Elina karena ada laporan. Saya di-tag, yang memviralkan itu bukan saya duluan, tapi adalah televisi," ucapnya.
Dalam video sidak yang diunggah melalui kanal YouTube dan medsos pribadinya, Armuji mengakui sempat menyebut nama Madas ketika menanggapi pertanyaan soal oknum yang terlibat pengusiran Nenek Elina.
Namun, menurutnya, penyebutan itu dilakukan secara spontan dan tidak dimaksudkan untuk menyudutkan organisasi.
"Nah, dengan pernyataan kekhilafan saya itu menyebut pada logo Madas maka saya mohon maaf," ucapnya.
Ia juga menjelaskan konteks dia menyebut nama Madas, yakni agar ormas tersebut menghukum atau memberikan sanksi kepada terduga anggota organisasi itu yang diduga terlibat pengusiran dan perobohan rumah Nenek Elina.
"Nah, kalau itu memang bukan anggota Madas, maka wajib organisasi Madas mencari Yasin (pelaku pengusiran Nenek Elina) dan menghukumnya. Mengasih sanksi. Ada itu [di video]," ujarnya.
Sementara itu, Taufik selaku Ketum Madas mengaku menerima permintaan maaf Armuji tersebut. Ia juga berterima kasih kepada Universitas dr Soetomo yang memfasilitasi mediasi kedua belah pihak.
"Ini dalam rangka iktikad baik dan semoga ini menjadi dalam rangka klarifikasi dan penjelasan, beliau sudah minta maaf dan saya sudah minta maaf kepada senior (Armuji) tadi," kata Taufik.
Lebih lanjut, Taufik menegaskan, organisasi yang dipimpinnya tidak terlibat dalam peristiwa pengusiran Nenek Elina. Mereka juga menolak keras stigma premanisme yang sempat dilekatkan kepada Madas.
"Kami atas nama Madas meminta maaf jika persoalan ini menjadi gaduh dan tidak kondusif. Tapi kami tegaskan, Madas bukan ormas preman," tegas Taufik.
Taufik mengakui ada satu orang anggotanya bernama Yasin, yang diduga terlibat dalam aksi pengusiran Nenek Elina itu. Namun itu terjadi saat Yasin belum resmi menjadi personel Madas.
Beberapa waktu lalu, Taufik mengklaim Yasin diketahui baru resmi bergabung sebagai anggota Madas dua bulan setelah kejadian pengusiran nenek Elina. Kini, dia bilang, pihaknya telah memeriksa yang bersangkutan, serta menonaktifkannya secara sementara.
Selain itu, kepolisian juga telah menetapkan Yasin sebagai tersangka dan ditangkap terkait kasus nenek Elina itu.
Taufik juga membantah narasi Armuji yang menyebut Yasin mengenakan atribut Madas saat melakukan aksi pengusiran dan kekerasan terhadap Elina.
Menurutnya, Yasin memang memakai baju merah yang identik dengan ormasnya, namun tak ada tulisan atau simbol organisasinya pada pakaian itu.
"Ini jadi gorengan. Padahal tidak ada kaitannya dengan Madas," tambahnya.
Taufik sepakat untuk menyerahkan sepenuhnya proses hukum Yasin kepada aparat kepolisian. Mereka juga tidak akan memberikan bantuan hukum kepada yang bersangkutan.
"Kami dari awal mendukung Polda untuk menyelidiki. Kalau memang bersalah, silakan ditindak," tegas Taufik.
Lebih lanjut Taufik atas nama pribadi dan organisasi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Madura atas stigma yang sempat berkembang di tengah publik.
"Semoga ini jadi pembelajaran bersama dan tidak ada lagi kesalahpahaman," katanya.
(frd/kid)

1 day ago
11

















































