Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang warga lanjut usia (lansia), korban banjir di RT 05/RW 08, Jalan Jembatan Gantung, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, hanya bisa menyelamatkan piring hingga bantal saat banjir melanda wilayahnya.
"Rumah kosong, yang bisa diselamatkan piring paling satu, kompor satu, dan bantal, karpet," kata warga bernama Anna (55) kepada wartawan di Pejaten Timur, Jumat (30/1), dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anna mengatakan tempat tinggalnya tersebut sudah langganan banjir. Ia tak ambil pusing barang-barangnya hanyut asalkan keluarganya selamat, terutama sang cucu yang masih bayi berusia dua minggu.
Anna hanya berhasil menyelamatkan sejumlah barang. Sisanya tersapu banjir yang sempat mencapai 3 meter. Kini, dia sekeluarga mengungsi di salah satu teras ruko setempat.
"Nyelamatin diri aja. Pokoknya dirinya sendiri sama anak-anak, udah pada keluar, udah," ujarnya.
Anna menceritakan, pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sempat dilakukan pengerukan, namun hanya satu kali.
"Dikeruk kalinya zaman Ahok, enggak ngaruh dikeruk sekali, jadi tetap banjir," katanya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat banjir yang terjadi di RT 05/RW 08 Jalan Jembatan Gantung, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, mencapai 2,6 meter pada Jumat pagi.
Banjir di lokasi itu bahkan sempat mencapai ketinggian 3,2 meter pada pukul 05.00 WIB.
PIC Kelurahan Pejaten Timur BPBD DKI Jakarta Taufik mengatakan banjir yang melanda Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, disebabkan kenaikan debit air Sungai Ciliwung.
"Untuk banjir ini, disebabkan karena kenaikan debit air Ciliwung pada Bendung Katulampa yang berstatus Siaga 3 dan Pos Pantau Depok juga di Siaga 3, serta adanya limpasan air Kali Ciliwung," kata Taufik.
Dia mengatakan banjir melanda empat wilayah rukun warga (RW), yakni RW 5, RW 6, RW 7, dan RW 8. Sementara di Jalan Masjid Al-Makmuriyah, genangan terjadi di RW 7 dan RW 8.
Menurut dia, kenaikan muka air mulai terjadi sejak pukul 20.00 WIB dengan ketinggian awal sekitar 40 sentimeter (cm). Air kemudian terus meningkat hingga mencapai titik tertinggi pada pukul 06.00 WIB.
"Untuk paling tinggi di Jalan Masjid Al-Makmuriyah itu mencapai 320 sentimeter, tepatnya di RT 17/RW 07, RT 16/RW 07, dan RT 5/RW 08," ujar Taufik.
Saat ketinggian air mulai meningkat, kata dia, petugas telah mengimbau warga untuk melakukan evakuasi secara mandiri ke tempat yang lebih aman, dan mereka memilih untuk mengungsi ke rumah kerabat atau keluarga yang berada di lokasi yang lebih tinggi.
"Untuk pengungsi, Alhamdulillah, warga mengungsi ke tempat saudara yang lebih aman," tutur Taufik.
Terkait upaya penanganan banjir, BPBD DKI Jakarta melakukan pemasangan tali sebagai jalur evakuasi untuk membantu warga yang membutuhkan evakuasi. Sampai dengan saat ini, tidak terdapat hambatan berarti dalam proses evakuasi tersebut.
Di sisi lain, terkait penggunaan pompa, Taufik mengatakan BPBD belum melakukan pengerahan pompa karena masih menunggu air surut. Pompa baru akan digunakan saat proses pembersihan lumpur.
"Pengerahan pompa mungkin nanti saat pembersihan lumpur, ketika air sudah surut semua," ungkap Taufik.
Dia menambahkan kawasan permukiman yang terdampak banjir tersebut memang tidak memiliki pembatas antara sungai dan rumah warga, sehingga luapan air dengan mudah masuk ke permukiman.
(fra/antara/fra)

4 hours ago
8

















































