Usai Banjir, Warga Resah Kemunculan Buaya di Sejumlah Desa di Jambi

11 hours ago 9

Jakarta, CNN Indonesia --

Kegelisahan membayangi warga Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, karena kemunculan buaya di sejumlah desa dekat pemukiman.

Keberadaan buaya yang kerap muncul dekat pemukiman ini terjadi setelah peristiwa banjir luapan Sungai Batanghari di awal Januari 2026.

"Sudah beberapa kali kami melihat buaya terlihat di kanal sekunder (parit), di depan rumah. Terkadang buaya itu naik ke jalan," kata warga Desa Rantau Rasau II, Ade Remanto di Tanjabtim, Sabtu (17/1), seperti dilansir Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ade menyatakan keberadaan buaya di kanal parit mulai terpantau usai kejadian banjir luapan Sungai Batanghari, kendati ukurannya tidak terlalu besar, tapi hal itu membuat masyarakat menjadi takut. Terlebih buaya sering naik ke jalan desa, terutama saat malam.

"Anak-anak yang biasanya memanfaatkan kanal parit untuk bermain (mandi) sekarang jadi takut, kami minta pemerintah mencari solusi untuk menghalau keberadaan buaya di desa kami," tuturnya.

Kemunculan buaya jenis senyulong (tomistoma schlegelii), menurut Camat Rantau Rasau, Muhammad Yani terjadi di sejumlah desa, di mana umumnya terlihat di wilayah yang dekat dengan Sungai Batanghari.

Dia menambahkan bahwa berdasarkan laporan dari kepala desa dan warga, buaya senyulong dalam sepekan terakhir telah terlihat di tiga lokasi. Seperti di desa Bangun Karya, Pematang Mayang dan Marga Mulya.

Kemungkinan buaya ini berpindah (migrasi) akibat luapan air banjir yang terjadi di Kabupaten Tanjabtim. Untuk itu, pemerintah telah memberikan imbauan kepada warga, khususnya anak-anak tetap waspada dan diingatkan tidak mendekati kanal.

"Sejauh ini kita baru bisa mengimbau masyarakat, mengingat tindak penghalauan wewenang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)," jelas dia.

Kepala Dinas Perikanan Tanjabtim, Hendri mengungkapkan bahwa penanganan satwa air seperti buaya telah menjadi wewenang pihaknya. Namun sejauh ini, Dinas Perikanan belum mampu melakukan kerja lapangan mengingat keterbatasan personel dan peralatan.

Sejauh ini, setiap laporan masyarakat selalu diteruskan ke Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL).

"Kita baru bisa melakukan imbauan saja, apalagi personel masih sangat terbatas. Pihak BPSPL yang ada di Jambi baru memiliki dua personel, sampai sekarang mereka (BPSPL) masih meminta bantuan BKSDA Jambi terkait permasalahan itu," kata Hendri.

(wiw)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Kasus | | | |