80 Siswa SMPN Makale Toraja Diduga Keracunan MBG, Satgas Selidiki

3 hours ago 8

Makassar, CNN Indonesia --

Sebanyak 80 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), dilarikan ke rumah sakit pada Kamis (3/9), usai diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan sehari sebelumnya. 

Salah satu orang tua siswa korban keracunan menyebut menu MBG yang diberikan kepada siswa pada Rabu (2/9) kemarin antara lain nasi, ayam, sayur, tempe dan melon. Namun, para siswa diduga mengalami tidak sehat badan pada malam harinya.

"Mulai sakit tadi malam, ketika ke sekolah ternyata banyak siswa lain sakit," kata salah satu orang tua siswa, Jum (49).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekretaris Daerah Tana Toraja sekaligus Ketua Satgas MBG, Rudy Andi Lolo membenarkan ada puluhan siswa dirawat namun ia belum mau menyimpulkan penyebabnya, termasuk dugaan keracunan MBG.

Dia menyatakan penyebab dugaan keracunan masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

"Yang berdampak sekarang ini ada 80 (siswa), dirawat di tiga rumah sakit. Tapi ini belum kita katakan bahwa ini adalah keracunan," kata Rudy kepada CNNIndonesia.com, Kamis.

Menurut Rudy, makanan dari menu program MBG hari ini bahkan belum dibagikan kepada para siswa ketika keluhan tersebut muncul. Karena itu, pihaknya belum dapat menyimpulkan adanya keterkaitan antara kondisi siswa dengan menu MBG.

"Artinya makanan belum dibagi. Hari ini mereka belum makan," ujarnya.

Rudy mengatakan pihaknya telah meminta petugas mengambil sisa makanan serta muntahan dari siswa untuk diperiksa dan diteliti lebih lanjut. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa

Jadi artinya, kita belum mengatakan bahwa ini namanya keracunan itu yang bersifat segera. Artinya bisa saja dia makan makanan lain atau di rumah," jelasnya.

Rudy menerangkan sejumlah kemungkinan masih didalami, termasuk faktor makanan lain yang dikonsumsi siswa sebelum berada di sekolah hingga air yang di minum.

"Semua ini masih praduga. Makanya saya sudah perintahkan untuk mengambil sisa-sisa makanan dan muntah itu untuk kita pelajari selanjutnya," katanya.

Rudy menjelaskan bahwa keracunan makanan tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan munculnya keluhan kesehatan.

Jika diduga dipicu menu MBG sehari sebelumnya, Rudi menyebut ada jeda waktu lebih dari 12 jam sebelum siswa mengalami dampak kesehatan. 

"Jadi mau dibilang keracunan, sudah lebih dari 12 jam," pungkasnya.

(mir/dal)

Read Entire Article
Kasus | | | |